Muslimah
atau Feminis ?
(Afni
Fatmawathi Harits)
Liberalisme, sekulerisme, pluralisme, dan feminisme berasal dari teori yang satu yaitu relativisme. Apa itu relativisme? Suatu teori bahwa segala sesuatu tidak mutlak kebenarannya atau segala sesuatu bersifat relatif. Feminisme, liberalisme, sekulerisme, dan pluralisme, bukanlah berasal dari khazanah keilmuan Islam. Istilah itu lahir dari Barat dan berkembang di Barat. Kemudian disebarluaskan untuk suatu misi tertentu, yang sayangnya banyak muslim yang tidak mengetahuinya bahaya pemikiran ini. Sehingga latah mengikuti tanpa tahu asal-usul pemikiran tersebut.
Istilah feminism digunakan pertama kalinya pada tahun 1873, oleh seorang filsuf sosialis di Prancis yang bernama Charles Fourier. Sebelumnya, terjadi gerakan perempuan memperjuangkan hak-haknya di Barat disebut womanism, the woman movement, atau woman questions.
Feminisme berawal dari pernyataan perempuan tentang kekuatannya. Awalnya ia bukan teori tapi tindak personal. Tindak personal yang masif ini menjadi sebuah gerakan.
Tragedi di Barat menceritakan ketidakadilan yang dialami perempuan. Mereka tidak mempunyai hak belajar, tidak memiliki kekayaan, dan tidak boleh ikut dalam kehidupan publik. Seorang perempuan tidak boleh berniaga kecuali dengan mengatasnamakan laki-laki dari keluarganya. Seorang Ibu tidak boleh mendidik anaknya atas izin suaminya.
Dimana akar diskriminasi ini berasal? Ternyata jika kita membuka Bible atau Injil banyak 42:14): “Kejahatan laki-laki lebih baik dari pada kebajikan perempuan, dan perempuanlah yang mendatangkan malu dan nista”. Dalam ayat lainnya dinyatakan: “Setiap keburukan hanya kecil dibandingkan dengan keburukan perempuan, mudah-mudahan ia ditimpa nasib orang berdosa” (Sirakh 25:19). Masih banyak contoh dalam ayat-ayat lainnya.
Para pemuka agama Kristen pada saat itu juga ikut memberikan pernyataan-pernyataan yang menindas perempuan. Seperti kata Bapak Gereja Tertulian (150 M) mengatakan “Perempuan adalah sumber dosa”. St. John Chrysostom (345-407 M) yang merupakan Bapak Gereja Yunani mengatakan bahwa wanita adalah setan, kejahatan dan bencana yang abadi dan menarik.
Dengan pernyataan-pernyataan tersebut wajar jika para feminis menyatakan bahwa agama dan kitab suci adalah akar dari penindasan perempuan. Adanya ketidakadilan, penindasan atas dasar agama, budaya patriarki, dan masalah sosial, yang menjadi latar belakang munculnya feminisme di Barat.
Trauma dan kebencian terhadap agama telah merasuki jiwa feminis. Menyuburkan paham sekularisme dan memerdekakan liberalisme. Belum lagi trauma akan kekerasan pihak Gereja terhadap perempuan dalam inquisisi Gereja yang tidak beradab dan bermoral. Dalam penjara inquisisi Gereja kebanyakan korbannya adalah perempuan, terutama janda. Agar hartanya bisa diambil dan dikuasai Gereja.
Feminisme menyerukan kebebasan mutlak demi memerdekakan setiap hak perempuan. Seutuhnya, tubuh perempuan adalah milik perempuan, tidak ada intervensi orang lain bahkan tidak pula Tuhan.
Menurut feminis, tidak ada yang bisa mengatur juga memutuskan bagaimana perempuan menggunakan tubuhnya. Aborsi, pekerja seksual, menjadi bintang iklan atau film porno adalah pilihan mereka. Segala bentuk aturan yang terlalu ikut campur kebebasan mereka dinilai telah menindas kebebasan mereka.
Sejarah feminis sangatlah berbeda dengan sejarah muslimah. Sebelum Islam datang, perempuan di tanah Arab tidak dianggap ada. Anak perempuan adalah aib keluarga. Pernikahan menjadi kehinaan bagi perempuan. Ketika perempuan menjadi istri, ia bisa diwariskan bahkan bisa dinikahi dengan anaknya sendiri. Perempuan sebelum Islam tidak memiliki harta dan tidak mendapat warisan. Kemudian Islam datang memuliakan perempuan. Menaikan derajatnya tinggi. Ketika ia masih kecil menjadi jalan ke syurga bagi orang tuanya yang menjaganya. Ketika dewasa ia penyejuk mata suaminya. Dan ketika menjadi Ibu, ia menjadi sosok yang mulia. Perempuan mendapat hak dalam warisan. Nilai perempuan dianggak sama dengan laki-laki. Yang membedakan dan yang menjadikan mulia adalah ketaqwaan.
Muslimah tidak memiliki sejarah yang kelam dan mengerikan. Namun sejarah yang mengesankan dan luar biasa. Inilah bukti bahwa Islam adalah agama yang paling benar karena syariat Allah akan membawa kebaikan dan kedamaian untuk semua hamba-Nya.
Seorang muslimah adalah hamba Allah ﷻ. Muslimah yang shalihah ialah yang taat terhadap perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Tidak hanya muslimah, setiap muslim tidak memiliki kebebasan yang mutlak. Mereka memiliki kebebasan yang terikat. Karena setiap muslim adalah hamba, tinggal di bumi-Nya, menggunakan fasilitas yang diberikan Tuhannya dengan cuma-cuma.
Seorang muslimah memiliki panduan hidup. Panduan untuk beradab dan berakhlak. Panduan untuk beribadah dan berpakaian. Salah satu panduan berpakaian dalam Islam adalah dengan menutup aurat. Tujuannya adalah agar muslimah lebih terjaga, dan lebih bermartabat. Dalam Islam manusia tidak memiliki hak tubuh seutuhnya. Tubuh adalah milik Allah ﷻ. Kita hanya diizinkan memakainya untuk beribadah kepada-Nya. Dan suatu saat kita akna kembali kepada-Nya.
Islam tidak peran menafikan peran-peran perempuan. Bahkan
tercatat dalam sejarah peran perempuan sangat berkelas, dan berkesan di hati
umat muslim. Misalnya Ibunda Khadijah i,
bisniswomen yang sukses, hasilnya ia gunakan untuk mendukung Islam
secara penuh. Hartanya, bahkan nyawanya ia serahkan untuk Islam. Di masa
khalifah Umar bin Khattab h,
ditunjukklah satu orang muslimah bernama Asy-Syifa sebagai menteri perdagangan
pasar.
Syariat hadir menemani perempuan dari keterpurukan dan kehinaan.
Syariat hadir menjaga mutiara terindah dunia. Islam tidak memenjarakan
perempuan dan tidak menindas hak-haknya.
Karena perempuan tidak tercipta dari tulang kaki yang
bisa diinjak sesuka hati. Juga bukan dari tulang tangan untuk disakiti. Namun tercipta
dari tulang rusuk dekat di hati untuk disayangi dan dikasihi. Perempuan dari
aspek biologis memang berbeda dari laki-laki. Islam tidak menafikan hal ini.
Dan tidak memaksakan perempuan jauh dari kodratnya, atau jauh dari fungsi organ
tubuhnya.
Perempuan diciptakan memang berbeda bentuk tubuhnya
dengan laki-laki.Untuk itu syariat mempunyai hukum yang sejalan dengan kodrat
perempuan. Misalnya tidak boleh shalat saat haid, dan nifas. Ada hukum ‘iddah
bagi muslimah. Dan banyak hal lainnya yang tujuannya adalah menjaga muslimah
dengan baik. Bahkan setelah diteliti dengn ilmu sains, syariat ini mempunyai manfaat atau hikmah tersendiri untuk muslimah.
Jika kita menemukan para feminis mengaku muslimah
mengkritik ayat-ayat dan syariat Islam, jangan ditelan mentah-mentah. Sebab
akan menjauhkan kita dari ajaran Islam. Mereka telah masuk dalam keilmuan Islam
dan mengoyak-ngoyak hukum Islam yang semestinya bukan ranahnya. Mengartikan
ayat-ayat Al- Qur`an dan hadits nabi Muhammad ﷺ
sesuai kebutuhan mereka. Menghembuskan syubhat-syubhat yang menyesatkan
banyak muslimah.
Tidak ada istilah feminis muslimah atau Islamis feminis.
Karena tidak ada kaitan di dalamnya. Feminis adalah feminis. Muslimah adalah muslimah. Kebanggaan terhadap
agama Islam dan syariat Islam adalah tanda muslimah sejati.
……………………………
Ketidakadilan,
ketertindasan, dan keterpurukan tak pernah ada dalam sejarah muslimah,
memasukkan
nilai Barat dalam agama adalah sesuatu yang salah kaprah.
Sejarah
telah membuktikan bahwa feminis dan muslimah berbeda,
tidak perlu menyangkut pautkan sesuatu yang
sejatinya tidak sama.
Karena Islam dari dulu hingga kini memuliakan
perempuan,
hingga namanya tertulis menjadi surat dalam
Al-Qur`an.
Allah
ﷻ menciptakan manusia berjenis laki-laki dan
perempuan,
tidak
ada jenis kelamin lainnya, apalagi gay atau lesbian.
Banyak manusia menuntut kebebasan mutlak pada
dirinya,
padahal nafas dan nyawanya hanya ada
ditangan-Nya.
Jika
muslimah tak belajar untuk mengetahui pemikiran yang salah,
ia akan terjerumus ke dalam luka yang mengangah.
Jadikan dirimu kuat wahai muslimah,
karna musuh Allah ﷻ
ingin menjerumuskanmu ke jalan yang salah.
Iman
adalah pondasi dan ilmu adalah tiangnya,
mari kita berjuang melawan kesesatan berfikir
bersama-sama.
(Muslimah
Pembawa Perubahan @avnie suhayla)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar